Ragam Alasan Berpacaran
Ada beragam alasan mengapa orang berpacaran. Beragamnya alasan
tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena setiap orang memang
berbebeda baik latar belakang kehidupan, maksud, tujuan hidup, serta
kepribadian.
Berberapa alasan mengapa orang-orang berpacaran diantaranya adalah :
sebagai proses penjajakan sebelum memasuki dunia pernikahan
sarana untuk mendapatkan jodoh
pemicu dan semangat untuk lebih baik dan lebih berprestasi dalam hidup
ajang berbagi rasa
agar kelihatan dewasa
menambah financial
sarana bersenang-senang
dan sebagai sarana dakwah
Nah gimana menurut kamu ??? Bener gak dengan beberapa alasan yang ada
diatas. Atau apa kamu termasuk salah satu diantaranya ? Kita kulik
lagi yuk n kita bahas satu persatu alasan-alasan tersebut.
Yuuukkk.....
Alasan Penjajakan
Berawal dari ajang coba-coba ataupun sekedar ikut-ikutan dalam
menjalin suatu hubungan berpacaran, dalam perjalanan usia yang semakin
bertambah maka banyak orang mengarahkan untuk mencari pasangan hidup.
Dan pacaran itupun tak lain adalah untuk melakukan penjajakan. Dan
banyak pula yang mengatakan pacaran itu perlu agar bisa memahami
karakter asli dari calon pasangan hidup.
Jadi, alasan utama mengapa orang berpacaran adalah dalam rangka
penjajakan. Penjajakan dimaksudkan untuk saling mengenal satu sama
lain, saling mengerti hidup masing-masing dan dalam rangka mencari
kecocokan sebelum memasuki bahtera rumah tangga. Penjajakan mereka
lakukan guna menghindari kesalahan dalam memilih pasangan hidup.
Mereka tidak mau dalam menentukan pasangan hidup seperti kata pepatah
"membeli kucing dalam karung".
Antara pasangan yang menjalani masa penjajakan membutuhkan waktu yang
berbeda, waktu nya bersifat relatif. tergantung pada kondisi
masing-masing pasangan. Ada yang berlangsung beberapa bulan saja, ada
pula yang setahun, dua tahun, tiga tahun, lima tahun, bahkan ada yang
lebih dari itu.
Pertanyaannya adalah, benarkah pacaran media tepat untuk saling
mengenal satu sama lain, saling memahami, saling mengerti pribadi
masing-masing ?
Dalam kenyataannya orang berpacaran cenderung menampilkan diri didepan
sang pacar tidak secara apa adanya. Banyak hal dari sisi karakter dan
kepribadian yang ditampilkan sangat jauh dari realitas yang
sesungguhnya. Masing-masing menampilkan diri dengan penampilan yang
semu. Penampilan yang jauh dari sifat aslinya. Kepribadian yang
mencuat adalah yang baik-baik saja, sementara kepribadian yang jelek
cenderung ditutup-tutupi dan berupaya sekuat mungkin
menyembunyikannya. Mereka berharap segala kekurangan, aib, dan sifat
buruknya tidak diketahui oleh pasangan masing-masing. waduh....!
Ketika bersama pacar, kekurangan dan sifat buruk itu tidak pernah
dibiarkan muncul kepermukaan. Akan tetapi ketika sang pacar berlalu
maka karakter asli kembali mencuat. Oleh karenanya, kesan yang muncul
dalam jalinan hubungan ini adalah kesan sempurna dan mempesona jauh
dari cacat dan kekurangan. wuich.. kaya'nya si dia perfect banget
deh..
Para ahli psikologi menyatakan pacaran pada dasarnya bukannya membuat
saling mengenal tetapi saling menutupi diri. Mengapa ? Karena
pelakunya terjebak dalam horizon harapan. Horizon harapan adalah agar
pasangan yang dipacari tidak berubah, sesuai persebsi tentang pasangan
yang ideal. Misalnya, Miss. X memandang sang kekasih, Mr X, romantis
dan lemah lembut . Dan Miss. X berharap pada sang kekasih untuk tidak
berubah. Ketika Mr. X berubah tidak romantis dan kasar maka Miss. X
akan memaksa Mr. X tetap romantis dan lemah lembut. Horizon harapan
itu justru membahayakan kesiapan orang untuk menikah..
Selain alasan untuk saling mengenal, memahami dan mengerti kepribadian
masing-masing, penjajakan juga dimaksudkan untuk mencari kecocokan
sebagai untuk memasuki dunia pernikahan.
Disekitar kita banyak pasangan yang usia pacarannya bertahun-tahun,
setelah merasa cocok mereka melangsungkan pernikahan, namun dalam
waktu yang singkat mereka bercerai dengan alasan ketidak cocokan.
Padahal selama waktu berpacaran mereka telah melakukan penjajakan,
mereka saling mencocokkan diri satu sama lainnya sehinga dalam kurun
waktu tertentu mereka memutuskan untuk menikah karena menemukan
kecocokan. Lalu apa makna kecocokan yang dicari saat berpacaran ?
Alasan tersebut menunjukkan suatu sikap mental rapuh yang tidak
terbangun diatas argumentasi kuat dan benar serta menunjukkan ketidak
siapan untuk menerima kenyataan bahwa manusia bersifat dinamis. Apa
yang mempengaruhi manusia juga dinamis dan karenanya hubungan suami
istri pasti dinamis.
Oleh karena itu pacaran bukanlah sarana tepat untuk melakukan
penjajakan., saling mengenal, memahami pribadi masing-masing, dan
mencari kecocokan menuju gerbang pernikahan. Pacaran tidak akan
membuat pelakunya saling mengenal, saling memahami, dan saling
mengerti pribadi masing-masing. Pacaran juga bukannya melatih
seseorang untuk siap menjadi pasangan suami istri, melainkan hanya
siap pacaran aja. Nah lo !
Bahkan alasan penjajakan tidak berubah menjadi saana penjajahan dan
penjejalan terhadap sang pacar. Dalam kenyataannya banyak pasangan
terjajah akibat pacaran. Dan tidak sedikit pula mereka terhempas dalam
sumur penyesalan akibat dijejali oleh sang pacar.
Alasan Jodoh
Tidak sedikit manusia dijaman ini yang memiliki pemahaman bahwa untuk
mendapatkan jodoh adalah dengan cara berpacaran. tidak hanya anak muda
saja yang beranggapan seperti itu para orangtua pun juga memiliki
anggapan yang sama.. Mereka para orangtua beranggapan ketika sang anak
telah dipacari maka jalan menuju pelaminan menjadi mudah.
Pertanyaannya adalah, benarkah pacaran memudahkan sesorang untuk
mendapatkan pasangan hidup ? Apakah pacaran menjamin pelakunya untuk
menikah ? Apakah pacaran merupakan satu bentuk ikhtiar yang benar ?
Menurut ajaran agama, jodoh merupakan rahasia ilahi sebagaimana
rejeki, ajal serta nasib. Manusia tidak diberikan wewenang untuk
memastikan siapa pendamping hidupnya. Yang menentukan semuanya adalah
Yang Maha Kuasa. Ini adalah prinsip yang seharusnya dimiliki oleh
setiap keturunan adam. Sebab demikianlah kenyataannya.
Dalam banyak kasus, betapa sepasang anak muda yang telah menjalin
cinta dalam kurun waktu yang cukup lama harus berkesudahan dengan
perpisahan (bener gak seeh ?). Mereka berpacaran dengan fasilitas yang
diberikan Tuhan berupa waktu dengan waktu yang tidak sedikit. Ada yang
menggunakan separuh dari jatah usianya untuk berpacaran, ada yang
berpacaran selama satu tahun, dua, tiga tahun, bahkan lebih. ada pula
yang hanya tiga bulan dan ada pula yang kurang dari itu. Akan tetapi
semua itu berakhir dengan airmata perpisahan. Mereka tidak kuasa
melanjutkan hubungan kepelaminan hanya karena sejumlah faktor yang
tidak diduga sebelumnya.
Ada saja hambatannya.Hambatan itu bisa saja berasal dari diri sendiri,
dari sang pacar, dari orang tua, bisa juga datang dari orang lain,
atau juga bisa dari alam. Tegasnya kita tidak tahu bagaimana Allah
menegakkan takdir-Nya.
Hal lain yang merupakan bagian dari prinsip tersebut adalah manusia
hanya diberikan wewenang untuk selalu berikhtiar. Artinya kewajiban
kita adalah berusaha dan berdo'a, selebihnya kita serahkan kepada-Nya.
Dalam berikhtiar bukan segala macam cara dihalalkan. Ada rambu-rambu
khusus yang membingkainya agar bahtera rumah tangga sampai pada
tujuannya. Ikhtiar seharusnya tidak bertentangan dengan aturan-Nya.
Oleh karena menikah merupakan ibadah, yakni niat ikhlas karena Allah
dan sesuai dengan Syariat-Nya.
Kalau menikah membutuhkan proses yang benar maka pacaran bukanlah
sarananya.. Sebab pacaran merupakan syarat dari ketidakpastian dan
pelanggaran.
Alasan Motivasi
Sebagian pasangan beragumentasi, pacaran membangkitkan motivasiatau
dorongan untuk menjadi lebih baik. Menurut merek, dengan berpacaran,
semangat terpacu dan terpicu untuk berbuat lebih baik dari biasanya.
Lebih bersemangat datang kesekolah, lebih bersemangat belajar dan
beribadah, lebih semangat bekerja serta lebih semangat dalam
menuntaskan agenda kehidupan. Benarkah dengan berpacaran , seseorang
akan terdorong untuk lebih berprestasi, beribadah, bekerja, dan
berkarya?
Pada kenyataannya, orang yang berpacaran akan selalu berupaya
melakukan sesuatu yang terbaik hanya untuk menyenangkan perasaan sang
kekasih. Masing-masing dari mereka berupaya menampilkan diri sebaik
mungkin, sesmpurna mumgkin dan semempesona mungkin. Mereka bermaksud
agar hubungan cinta yang sedang bersemi terus mekar dan senantiasa
berada dalam suasana yang langgeng.
Karena itu, sang pacar mau mempersembahkan sesuatu keinginan sang
kekasih. Menurut mereka, hakikat cinta adalh memberi bukan menerima.
Da anggapan dikalangan remaja, bahwa ketika mereka memiliki pacar maka
dorongan berprestasi semakin meningkat. Anggapan seperti itu tidak
terbangun diatas logika yang benar. Mengapa ? Sebab mana mungkin
seseorang akan lebih terpacu belajar sementara perasaan dan pikirannya
terfokus pada sang pacar. Apalagi gelora cinta sudah semakin membara.
Orang yang sudah dimabuk sangat sulit untuk menggunakan akal sehatnya
dengan baik. Apalagi berkonsentrasi.
Kalau ada pelajar atau mahasiswa yang tampak cerdas secara
intelektual, sebenarnya itu bukan disebabkan oleh sang pacar. Namun
karena ia memang memili bakat dan potensi sebagai orang cerdas. Lebih
dari itu ia belajar dengan tekun dan terus menerus.
Menurut kacamata agama, seharusnya seluruh amalan berangkat dari
motivasi yang benar. Sebab Allah tidak akan menerima amalan seseorang
kalau tidak sesuai dengan aturan-Nya. Menurut ajaran agama, Allah akan
menerima amalan keturun Adam manakala niatnya ikhlas karena Allah
artinya seluruh amal yang dilakukan murni ditujukan untuk mencapai
ridho-Nya semata bukan ridho sang pacar. Sesuai syariat artinya amalan
tersebut mengikuti aturan dan hukum-Nya yang dicontohkan melalui
Rasul-Nya bukan yang sesuai dengan selera hawa nafsu atau pikiran kita
sendiri.
Sebagai orang beriman, inilah yang paling penting dan utama untuk kita
pahami. Apalah artinya amalan yang kita perbuat dan kita bangun kalau
Allah tidak menerimanya.
Beberapa dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar rujukan pernyataan diatas
terdapat dalam firman Allah Q.S Al-Bayyinah : 5
"Mereka hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan
menuluskan keikhlasan kepada-Nya...
Dan juga terdapat dalam Q.S Al-An'am :162
"Sesungguhnya syalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk
Allah, Rabb semesta alam."
Selain dalil tersebut, kita juga bisa merujuk pada sabda Nabi dan
perkataan ulama berikut,
"Dari amirul mukminin Abi Hafs bin Al-Khatab r.a. telah berkata, ' Aku
telah mendengar Rasullullah SAW bersabda, sesungguhnya bagi setiap
amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap
orang apa yang ia niatkan. Maka bagi siapa saja yang hijrahnya menuju
keridhoan Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu kearah keridhoan
Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya itu karena dunia (harta
dan kemegahan dunia) atau karena seorang waniota yang akan dinikahinya
maka hijrahnya itu kearah apa yang dituju." (HR. Buhkhari dan Muslim)
"Tidak diterima suatu perkataan, kecuali disertai amal, tidak diterima
suatu perkataan dan amal, kecuali disertai dengan niat, dan tidak
diterima suatu amal, perkataan, dan niat, kecuali sesuai dengan sunnah
Nabi SAW." (Perkataan Ulama Sa'id bin Jubair)
Alasan Berbagi Rasa
Berbagi rasa dengan orang lain merupakan fitrah, karena setiap manusia
pasti membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan permasalahannya.
salah satunya terpenuhi rasa aman dalam diri manusia adalah manakala
problema yang dihadapi berupa gangguan, tekanan, dan sebagainya dapat
terselesaikan minimal terkurangi. Dan salah satu cara untuk
menyelesaikannya dan menguranginya adalh berbagi atau mencurahkan
kepada orang lain.
Menurut Abraham Maslow, kebutuhan manusia dibagi menjadi kebutuhan
fisik, kebutuhan rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan aktualisasi
diri. Masing-masing kebutuhan tersebut memerlukan pemenuhan.
Yang menjadi persoalan adalah mengapa harus sang pacar yang menjadi
tempat curhat dan berbagi rasa ? Bukankah ada yang lebih dekat dengan
diri kita seperti, orang tua, kakak, adik kita ? Bukankah kita
memiliki teman perempuan atau teman laki-laki ? Bagaimana kita bisa
menjaga diri kita dari hawa nafsu yang ada pada diri kita maupun sang
pacar ketika kita curhat ?
Menurut psikolog, berbagi rasa atau curhat diperlukan untuk mengurangi
beban perasaan. Masih menurut mereka, tempat curhat yang paling tepat,
nyaman, serta solutif adalah dengan orang yang dekat dengan kita, yang
mengenal kita secara baik dan utuh, serta yang lebih memahami
persoalan.
Orang yang dekat dengan diri kita adalah orang tua. Kalaupun orang tua
termasuk dalam kategori keluarga ARIS ayah repot, ibu sibuk atau
broken home, kan masih ada kakak ataupun adik kita. Yang paling
memahami masalh kewanitaan adalah sesama wanita. Demikian pula
sebaliknya, yang paling mengerti masalah kelelakian adalah sesama
lelaki. dan selain mereka juga ada khan para sahabat kita yang siap
untuk menampung segala gundah didalam hati kita,
Menurut orang-orang sukses, media curhat yang paling baik adalah
syalat. Melalui syalat, setiap pelakunya dapat memuntahkan segala
persoalan yang dihadapinya. Disana dia bisa berdo'a semaunya. Dia-lah
problem solver yang sesungguhnya.
Alasan Kedewasaan
Sebagian remaja ABG, menjadikan pacaran sebagai sarana unjuk gigi.
Biar gak disebut lagi sebagai bocah cilik maka merekapun berpacaran.
Pacaran bagi mereka bukan untuk sarana penjajakan, namun sekedar
memperlihatkan kepada orang lain bahwa mereka telah dewasa. Selain itu
dengan berpacaran maka mereka berharap dapat melatih diri sehingga
menjadi lebih dewasa.
Seseorang disebut dewasa bukan hanya dilihat dari aspek biologis
semata, namun ditinjau dari sisi pemikiran dan psikologis. Dewasa
secara psikologis adalah dimana organ reproduksi telah berfungsi
secara optimal. Keadaan ini ditandai dengan produksi sperma pada cowok
dan produksi sel telur pada cewek.
Sedangkan dewasa secara psikologis, ditandai dengan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam
kehidupan. Dia tahu memilih apa yang mesti dilakukan atau yang tidak
boleh dalam situasi yang berbeda-beda. Mau mengambil bagian dalam
kegiatan bersama yang bermacam-macam dan mempelajari keahlian untuk
kegiatan-kegiatan tersebut. Punya kesadaran dan tanggung jawab
terhadap orang lain supaya bisa hidup secara harmaonis.
Secara intelektual, seseorang dianggap dewasa bila telah mampu
berpikir dengan matang dan logis, sanggup mempertimbangkan sesuatu
secara tepatdan mempunyai pengertian yang mendalam tentang Yang Maha
Kuasa, dunia, ilmu pengetahuan, sosial, moral, kebudayaan dan diri
sendiri.
Pertanyaannya ! Apakah hal-hal tersebut dapat diraih dengan berpacaran
? Apakah dengan berpacaran lantas kita menjadi dewasa ? Orang yang
berpacaran cenderung menutupi sebagian dirinya baik sikap dan
perasaan. Mereka tidak menampilkan diri secara utuh. Karena itu,
Pacaran bukanlah sarana kedewasaan dan latihan mendewasakan diri.
Alasan Finansial
Sebagian orang menjadikan pacaran sebagai cara untuk mendapatkan uang
dan menambah penghasilan. Mereka mau dipacari lebih disebabkan karena
uang. Cinta bagi mereka adalah nomor bontot. Orang-orang ini rela
menggadaikan kehormatan untuk mendapatkan keuntungan materi.
Banyak contoh disekitar kita yang menunjukkan hal tersebut. MIsalnya,
seorang pemuda rela menjadi pria idaman wanita kaya yang telah
bersuami dalam rangka memenuhi kebutuhan akan uang. Dan seorang wanita
yang mau dijadikan sebagai wanita simpanan laki-laki berduit dalam
rangka mendapatkan segala materi dan keungannya lancar. Pacaran dengan
dalih finansial tidak sedikit berakhir dengan kekerasan, pertikaian,
dan pertengkaran.
Alasan Mencari Kesenangan
Dalm realitasnya ada yang berpacaran sekedar mencari kesenangan
belaka. Orang seperti ini menganggap pacaran sebagai hiburan dimasa
sulit dan obat stress akibat persoalan hidup. Pelakunya berasal dari
berbagai latar belakang, tapi punya tujuan yang sama yaitu untuk just
having fun. Mereka berpacaran hanya sekedar untuk melampiaskan hawa
nafsu untuk mencari ketenangan sebagai obat pelipur lara.
Mereka berpacaran tidak untuk penjajakan namun semata-mata mencari
kepuasan seksual. Para PIL ataupun WIL sebagai simpanan tersebut dalam
rangka memenuhi hasrat birahi belaka. Naudzubilah min dzalik.
Alasan Dakwah
Sebagian orang yang mengaku sebagai aktivis dakwah, menjadikan dakwah
sebagai alasan menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis. Aktivis
tersebut berpacaran dengan argumentasi untuk mempertahankan keyakinan
seseorang atau ingin memperbaiki prilaku yang buruk atau mengajak
seseorang untuk mempelajari, memahami, dan mempraktekkan nilai-nilai
islam.
Dalam kenyataannya memang tidak sedikit yang mengikuti apa yang
diinginkan sang pacar. Misalnya, cowok yang prilakunya jauh dari
akhlakul karimah berubah menjadi baik karena terdorong oleh arahan
cewek yang ditaksirnya atau yang dicintainya. Pun sebaliknya, cewek
yang kesehariannya tidak memakai baju muslim karena adanya arahan dari
sang kekasihmaka dengan penuh suka rela dia mengikutinya. Akan tetapi
ketika mereka sudah putus maka dengan serta-merta pula apa yang
diarahkannya selama ini mereka tinggalkan.
Dakwah secara bahasa memiliki makna mengajak. Dakwah secara istilah
berarti upaya mengajak dari keadaan yang tidak baik menuju keadaan
yang baik, dari kehidupan yang tidak islami menuju kekehidupan yang
islami, dari keadaan yang tidak dicintai Allah menuju kekeadaan yang
dicintai Allah dengan syarat-syarat tertentu.
Seseorang yang berpacaran dengan alasan berdakwah berarti tidak
memahami dengan benar apa itu dakwah. Bagaimana mungkin dia disebut
berdakwah ke jalan Allah kalau niat dan tata caranya melanggar aturan
Allah swt ? Ia mengajak orang lain kepada kebaikan namun dengan niat
yang tidak tulus dan dengan cara yang melanggar aturan bergaul secara
islami. Diastu sisi ia berdakwah untuk mendapatkan ridho dari Allah
namun pada sisi yang lain dia juga mengharapkan ridho orang yang
dimaksud. Demikian pula dengan si terdakwah yang melakukan apa yang
diinginkan oleh orang yang mendakwahinya.
Adapun yang menyangkut hidayah Allah yang perlu dipahami oleh setiap
insan adalah hidayah itu adalah hak Allah swt semata. Seseorang mau
masuk islam atau murtad sangat bergantung pada hidayah Allah swt.
Demikian pula dengan kebaikan lainnya seperti mengikuti perintah-Nya
dan menjauhi larangan-Nya, kita sebagai manusia tidak punya kekuatan
sama sekali untuk memberikan hidayah kepada seseorang. Kewajiban kita
sebagai hamba Allah adalah berikhtiar dengan cara-cara yang
diridhoi-Nya. (bersambumg...)
by: Dewi Astati

1 comment:
wie
tulisannya tambahin yo
Post a Comment