Menyambut PEMILU 2009 by Jhon cikalasa

Sebentar lagi kita akan memasuki pesta akbar yang kita kenal dengan "PEMILU". Di sini kita dituntut untuk memberikan suara guna mendukung wakil-wakil kita yang nanti akan duduk di bangku pemerintahan. Sebelum presiden di negara kita ini nanti berganti dengan yang baru, ada baiknya kita sedikit mengenang masa lalu.

Kita mulai saja dari zaman Soeharto yang kita kenal dengan "Orde Baru". (cerita ini sengaja dimulai dari ORBA, karna emang terasa lebih pas)

Masa ini lebih tepat di sebut jaman edan. Di tangan rezim Soeharto yang benar bisa di salahkan dan yang salah bisa aja di bikin benar. Korupsi merajalela, perjudian di legalkan, dan berbagai bentuk kebobrokan lain yang akan teramat panjang untuk di sebutkan satu persatu di sini. Saat itulah sebenarnya kehancuran bangsa ini di mulai.

Tapi karna rezim Soeharto sangat otoriter, dia sanggup memendam gejolak yang terjadi di negri ini dalam jangka waktu yang cukup panjang. Siapa yang berani bertindak? Yang kedengaran suaranya akan di bungkam, di penjara, di culik bahkan dibunuh. Hingga akhirnya Soeharto tumbang akibat kerusuhan besar yang terjadi di negri kita ini.

Setelah kelengseran Soeharto, maka Habibie lah yang menggantikan perannya sebagai presiden. Habibie memang hebat, terus terang saya pribadi salut sama beliau. Tapi saya salut bukan lantaran waktu itu dia menjadi presiden. Tapi saya salut karna kehebatannya dalam tekhnologi. Sedangkan jabatannya sebagai kepala negara cuma memperoleh nilai "nol BESAR". Ada kejanggalan mengenai pelantikan Habibie waktu itu. Menurut konstitusi, dari wakil presiden menjadi presiden itu harus MPR yang mengangkat. Tapi ini Soeharto yang telah turun dari takhtanya menunjuk Habibie. Di lantik di depan dia dan tak seorangpun anggota MPR pada waktu itu yang protes. Tak ada satu orang pun rakyat yang keberatan.

Pada masa pemerintahan Habibie inilah Timor Timur yang telah kita perjuangkan sekian lama lepas dari negara kesatuan RI. Daerah dimana kita telah mengorbankan banyak hal. Tak hanya materi, tapi juga sudah banyak nyawa yang menjadi tumbal untuk tetap mempertahankannya. Akhirnya Habibie pun jatuh.

Setelah Habibie, maka Gus Dur di angkat menjadi presiden. Seluruh anggota MPR, seluruh rakyat indonesia bagai ditutup matanya. (ma'af) seorang buta menjadi presiden. Dan ini menurut saya pribadi teramat sangat aneh. Karna belum pernah ada sejarahnya di belahan bumi manapun orang buta jadi presiden. Indonesia semakin kacau. Goncangan besarpun kembali terjadi. Irian mau lepas, Aceh juga mau lepas. Hingga tak bertahan lama Gus Dur pun jatuh.

Setelah kejatuhan Gus Dur, tampuk pemerintahan dipegang oleh Mega Wati. Konflik di negara kita masih tetap berlanjut. Menurut Islam (80 persen orang Indonesia beragama Islam). Termasuk menurut tokoh-tokoh islam aliran keras. Perempuan tidak boleh menjadi presiden. Salah seorang yang menentang perempuan jadi presiden adalah Hamzah Haz (satu bulan menjelang Mega Wati menjadi presiden). Tapi begitu dia diangkat menjadi wakil presiden, Hamzah pun bungkam seribu bahasa. Kemunafikan besar terjadi di negri kita ini. Sipadan-Ligitan hilang. Maka makin lemah lah negara kita.

Akhirnya sekarang tibalah kita di penghujung masa pemerintahan "SBY-Kalla". Setelah kita toleh pada kepemimpinan mereka ini. Dapat di katakan bahwa mereka ini tak ubahnya dua pembohong besar. Janji-janji "SBY" sewaktu kampanye nya, tak ada yang terwujud. Masih ingatkah janji bahwa harga BBM tak akan naik? Nyatanya sudah berapa kali harga BBM naik? Oke, harga BBM akhir-akhir ini juga sudah di turunkan. Tapi bukan tidak mungkin ini cuma akal-akalan karna masa pemerintahannya akan segera berakhir. Sehingga dia buru-buru cari simpati agar kembali terpilih. Dia berjanji tak akan pergi keluar negri. Nyatanya sudah berapa kali dia keluar negri? Dia berjanji akan menghapuskan uang sekolah, nyatanya uang sekolah malah naik. Dia berjanji orang-orang miskin mendapatkan fasilitas gratis di rumah sakit, nyatanya orang miskin yang datang ke rumah sakit banyak yang di tolak.

Tak kalah hebatnya wakil presiden kita Yusuf Kalla. SBY boleh mengatakan Yusuf Kalla berada di bawah kewejangannya. Tapi kita sama-sama melihat SBY adalah "BAWAHAN" Yusuf Kalla. Dia mengikuti apa yang dikatakan Yusuf Kalla.

Yusuf Kalla telah melanggar konstitusi berupa MoU Republik Indonesia-GAM. Dibiarkan dan di setujui. Yusuf Kalla membuat Surat Keputusan Wakil Presiden yang tidak ada dalam tatanan perundang-undangan Republik Indonesia, disetujui. Yusuf Kalla minta harga BBM naik, juga di setujui. Jadi sekarang pertanyaannya di antara presiden dan wakil presiden, manakah yang lebih tinggi kedudukannya?

Jadi tak salah kiranya kalau untuk ke depan kita perlu waspada akan kekacauan-kekacauan yang di timbulkan oleh orang-orang yang kita anggap sebagai pemimpin. Tapi kita pun berharap semoga kesalahan-kesalahan di masa lalu dapat di jadikan pelajaran oleh orang-orang yang nanti bakalan duduk di bangku pemerintahan kita. "SEMOGA"

By : Jhon cikalasa

4 comments:

Mr.Kikuk said...

Untung soeharto udah jatuh. Kalo gak bakalan di tangkep si bos.. Tapi emang faktanya kayak geto..
Terus maju buat cikalasa

Riosadja said...

Mantap euy

Anonymous said...

Tajem nih mas. Saya setuju mengenai pernyataan kalo para pemimpin kita di dominasi oleh orang-orang munafik

Anonymous said...

bener2 tajam, setajam silet...