Pada dasarnya, kita harus tahu bahwa seorang muslim di sisi Allah terikat oleh keadaan dirinya, oleh keinginan akan segala hal, suara dan bisikan hati, ingin berbuat sesuatu, ingin bergaul, dan seterusnya.
Dalam hal ini, Imam Zain al-Abidin as berkata, "Tidak sepatutnya
kamu duduk bersama siapa saja yang kamu inginkan, sebab Allah SWT
berfirman, "Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olok
ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan
pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa, maka
janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah
teringat (akan larangan itu)." (QS al-An'am:68) "Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya."
Rasulullah saw bersabda, `Allah merahmati seorang hamba yang berkata
baik lalu beruntung atau diam lalu selamat. Dan tidak patut bagimu
mendengar segala apa yang ingin kamu dengar, sebab Allah Azza wa Jalla
berfirman, "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
itu akan diminta pertanggung jawabnya." (QS al-Isra:36)
Di sisi lain, perhatikanlah bahwa sahabat yang mempunyai kriteria
tersebut akan membawa dampak negatif bagi manusia dan menyebabkan hati
gelap. Bisa jadi ia akan mendorong manusia untuk berbuat keburukan,
atau bisa jadi kita berperan dalam kemarahan Allah dan mengantarkan
mereka ke siksaan-Nya.
Terekam dalam sejarah, seorang sahabat Imam Ali bin Musa ar-Ridha
as, yang bernama Sulai Ja'fari meriwayatkan, "Suatu hari aku mendengar
Imam berkata kepada ayahku, `Mengapa kamu berhubungan dengan
Abdurrahman bin Ya'qub?`
Ayah menjawab, `Ia bapak mertuaku.`
`Namun pernyataannya tentang Tuhan sangat memberatkan, dia telah
menyifati Allah dengan sifat-sifat terbatas, padahal Allah SWT tak
tersifati,` tegas Imam.
Ayah berkata, `Apapun yang dikatakannya tidak meyakinkanku sama sekali.`
Imam berkata, `Tidakkah kamu takut akan turun bala yang menimpa
kalian semua? Tidakkah kamu tahu bahwa seorang sahabat Nabi Musa as,
ayahnya adalah teman dekat Fir'aun? Ketika tentara Fir'aun mengejar
Musa as, sahabat musa itu keluar dari kelompoknya mendekati tempat
ayahnya untuk menasihatinya agar ikut dengan kelompok Musa as. Ia dan
ayahnya muncul sedang dalam bertikai, sampai mereka tergiring di
pinggir laut. Dan kala itu azab Allah turun, dan kedua-duanya
tenggelam bersama tentara Fir'aun. Berita ini terdengar oleh Musa as,
dan beliau menanyakan keadaan sahabatnya itu, Jibril as berkata kepada
beliau, "Ia tenggelam, semoga Allah merahmatinya. Ia tidak percaya
dengan keyakinan ayahnya, namun saat azab turun maka orang-orang yang
berada di dekat orang berdosa tidak dapat menghindari azab."`
(al-Bihar, juz 74, bab 14, hadis ke-39)
Nah, dengan memperhatikan hal-hal diatas, dengan melihat
keterangan-keterangan ayat al-Quran dan hadis para imam, kita akan
mengetahui siapakah orang yang tidak patut dijadikan teman dan
sahabat.
1. Kelompok pertama ialah orang-orang yang mengolok-olok firman dan
agama Allah. Dalam ayat 68 surat al-An'an yang dimuat dalam hadis Imam
Zain al-Abidin as yang lalu, telah diketahui bahwa Allah SWT melarang
orang-orang mukmin bersahabat dengan orang-orang yang mengolok-olok
firman-Nya. Juga, dalam surat al-Maidah ayat 57 Allah melarang kita
bersahabat dengan kaum kafir dan orang-orang yang melecehkan agama.
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu ambil menjadi pemimpinmu,
orang-orang yang membuat agama jadi bahan ejekan dan permainan,
(yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitap sebelummu, dan
orang-orang yang kafir."
2. Kelompok kedua ialah orang-orang yang direndahkan dan dicela Nabi
saw dan para imam as. Pada awal periode dakwah Rasulullah saw,
ditengah kaum penyembah berhala Hijaz, terdapat seorang lelaki bernama
'Uqbah bin Wu'ith. Seorang musyrik dan penyembah berhala itu
mengundang jamuan makan. Suatu hari Rasulullah berpapasan dengannya
dan ia mengharapkan kedatangan beliau dalam acara jamuan makan. Nabi
saw berkata kepadanya, "Aku tidak mungkin makan bersamamu, kecuali
kamu seorang Muslim." `Uqbah paham bahwa Rasulullah mau diundang makan
bersama, dengan syarat ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi
Muslim. Di kala itu, Ubay kawan 'Uqbah menjadi marah ketika mendengar
berita tentang masuk Islamnya Uqbah. Ia datang dan mencaci-maki
'Uqbah, "Kamu sudah murtad dari agamamu."
`Uqbah berkata, "Aku mengundang orang sebagai tamuku, dan dia tidak
akan datang di meja makanku kalau aku tidak menjadi Muslim."
Ubay berkata, "Sekarang aku bukan sahabatmu lagi, kalau kamu tidak
kembali ke agamamu sebelumnya dan cacilah dia (Muhammad)." Ketika itu,
`Uqbah atas desakan Ubay kembali ke kepercayaannya dan keluar dari
Islam. Dan diwaktu perang Badar berkecamuk, ia terbunuh di tangan kaum
Muslimin, dan begitu pula Ubay pada perang Uhud. Mereka mati dalam
kemusyrikan. Berkenaan dengan itu turunlah wahyu (ayat 27-29 dalam
surat al-Furqan) yang menyinggung `Uqbah, "Dan (ingatlah) pada hari
itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu),
satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir. Kecelakaan
besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu
teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Quran
ketika al-Quran itu telah datang padaku. Dan adalah setan itu tidak
mau menolong manusia." (bersambung...)
/Tim Akhlak
"Sahabat Dan Teman" bag 3
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment