"Sahabat Dan Teman" bag 2

"Sungguh banyak orang yang berbuat buruk tetapi pada saat yang sama
yang haram ia tinggalkan, lalu ia tidak kembali pada akal yang kukuh.
Dalam kondisi seperti itu yang membuat ia tersesat (disebabkan
kebodohannya), lebih banyak dari memperbaiki dirinya dengan akalnya.
Jadi bila kamu temukan orang yang berakal kukuh, lagi-lagi
berwaspadalah, jangan sampai kamu tertipu! Sampai kamu saksikan apakah
hawa nafsunya mengalahkan akalnya? Atau dengan akalnya ia menguasai
nafsunya? Seberapa besar cintanya pada pemerintahan yang batil? Dan
seberapa besar kezuhudannya terhadap itu? Sebab, di tengah orang-orang
terdapat manusia yang rugi dunia akhirat; meninggalkan dunia karena
dunia. Dan ia melihat, kenikmatan pemerintahan yang batil lebih utama
dari kenikmatan harta dan kenikmatan-kenikmatan yang mubah dan halal
baginya. Kemudian ia tinggalkan itu semua dengan mencapai kedudukan
pemerintahan, sehingga `Apabila dikatakan kepadanya, "Bertakwalah
kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkan berbuat
dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka
jahanam itu tempat tinggal seburuk-buruknya.` (QS al-Baqarah:206)
"Ia menjadi geram dan membabibuta, ia ikuti awal kebatilan menuju ke
puncak kerugian yang paling jauh; dan Tuhan menolongnya sesudah ia
memohon atas lemah terhadap sesuatu di waktu lalim; di waktu itu ia
menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang
dihalalkan Allah. Tetapi ketika sukses pemerintahannya, ia tidak
peduli dengan kehilangan agamanya. Mereka itu adalah orang-orang yang
dalam kemarahan Allah dan Allah melaknat mereka dan janji Allah bagi
mereka adalah azab yang sangat pedih.
"Adapun seorang lelaki yang paling utama adalah orang yang
keinginannya menaati perintah Allah; yang daya kekuatannya
dipergunakan untuk meraih keridhaan Allah; ia menyaksikan suatu
kehinaan di jalan kebenaran itu lebih dekat pada kemuliaan abadi yang
batil; dan ia mengetahui bahwa sedikitnya beban dan ujian yang dipikul
dapat mengantarkannya pada kenikmatan yang abadi di alam yang tak
binasa dan tak berakhir; dan bahwa kenikmatan yang banyak yang
membuatnya tunduk pada hawa nafsu akan mengantarkan pada azab yang tak
henti-henti. Seorang lelaki yang demikian itu adalah lelaki yang
paling utama, maka berpeganglah kamu kepadanya dan contohlah
perilakunya; dan bertawasullah kepada Allah darinya, sebab Allah pasti
mengabulkan permohonannya dan tidak akan menyia-nyiakan
permintaannya." (al-Bihar, juz 2, bab 14, hadis ke-10)
Hadis ini, yang merupakan pandangan imam sajjad as, mengungkapkan
bahwa tolok ukur keutamaan seseorang bukan kebaikan lahiriah, bukan
ucapan yang zuhud, juga bukan sikap jaga jarak dengan harta dan hal
yang haram dan lain-lain. Hanyalah orang yang hatinya bersih dari
cinta dunia dan jabatan duniawi, yang siap menanggung kehinaan demi
keridhaan Allah dan segala keinginannya dilandasi akal dan syariat
Allah, adalah orang yang patut diikuti dan menjadi teman karib.
5. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw mewasiatkan agar kita
bersahabat dengan orang-orang yang bijaksana dan orang-orang miskin;
"Bertanyalah kepada alim ulama, bergaullah dengan orang-orang
bijaksana dan duduklah bersama orang-orang miskin." (al-Bihar, juz 1,
bab 3, hadis ke-5)
Dalam hadis yang serupa dengan hadis atas, imam Ali as berkata,
"Bergaullah dengan orang-orang yang bijaksana, duduklah bersama para
ulama, dan hindarilah dunia materi, maka kelak tempat tinggalmu di
surga al-Ma'wa." (al-Ghurar, juz 4, h.205)
Imam juga berkata, "Sering-seringlah berbuat benar dan maslahat
dengan bertemankan para pemikir."
6. Imam Hasan Mujtaba as dalam nasihatnya kepada Junadah bin Abi
Umayyah, mengatakan, "Bersahabatlah dengan orang yang membuat dirimu
mulia dan wibawa; yang dapat menambah kemuliaanmu; yang dalam segala
hal membuatmu sempurna; dan yang denan bantuannya dapat menutupi
kekuranganmu."
Beliau berkata, "Bersahabatlah dengan orang yang jika kamu
bersahabat dengannya, dapat menghiasi dirimu; yang jika kamu khidmat
kepadanya, terpeliharalah kepribadianmu; dan yang jika kamu perlu
bantuannya, ia membantumu. Dan jika kamu berkata, ia percaya; jika
kamu ulurkan tanganmu di hadapannya untuk kebaikan, ia sambut; jika
melihatmu mempunyai masalah, ia berusaha menyelesaikannya; jika
melihat kebaikanmu, ia (selalu) mengingatnya; jika kamu menginginkan
sesuatu darinya, ia berikan, dan jika kamu diam, ia sodorkan kepadamu;
jika kamu perlu sesuatu, ia sodorkan kepadamu sebelum kamu berkata
kepadanya; dan jika marabahaya mendatangimu, ..." (al-Bihar, juz 44,
bab 22, hadis ke-6)
7. Jika berteman dan bersahabat dilandasi kebenaran maka antar teman
harus saling menghiasi dan mengisi, saling mengingatkan, dan menutupi
kekurangan bukan menguntungkan sepihak serta saling menghormati dan
pengertian. Imam Baqir as berkata, "Iringilah orang yang menangisimu
dan menasihatimu. Jangan ikuti orang yang menertawakanmu dan dia
menipumu. Kamu semua akan kembali kepada Allah dan kamu akan
mengetahuinya." (juz 75, bab 48, hadis ke-31)
Imam Ja'far Shadiq as berkata, "Saudaraku yang paling aku cintai
ialah orang yang menghadiahkan aib-aibku kepada diriku." (juz 74, bab
19, hadis ke-4)
Hal yang perlu diperhatikan dalam hadis Imam Shadiq as ialah
memberitahu kekurangan seperti memberi hadiah yang membuat hatinya
senang dan gembira. (bersambung...)
/Tim Akhlak

No comments: