"Sahabat dan Teman" bag 1

Dalam masyarakat, kita secara alami menjalin hubungan pertemanan dan persahabatan dengan sesama. Kita berhubungan sosial dengan orang lain, berteman dan bersahabat serta bertukar pikiran dalam materi dan ruhani. Manusia dalam menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapi berembuk dengan mereka, bermusyawarah dan bertukar pikiran. Juga, mereka saling menolong ketika membutuhkan bantuan

Islam mempunyai pandangan tentang persahabatan dan memilih teman, dan menjelaskannya kepada orang-orang mukmin. Iman Ali as berkata, "Sesiapa yang tidak mempunyai teman, maka ia tidak memiliki simpanan." (al-Ghurar, juz 5, h.363)

Beliau juga berkata, "Teman adalah kerabat yang paling dekat." (al-Ghurar, juz 1, h.177)

Imam dalam hadis lain bersabda, "Teman adalah satu nyawa bagi jasad-jasad yang bermacam-macam." (al-Ghurar, juz 2, h.123)

Yang harus diperhatikan disini bagaimanakah kriteria seorang sahabat dan teman itu menurut islam. Karna ketika seorang teman itu sangat dekat melebihi kerabat, biasanya ia mempunyai banyak pengaruh bagi seseorang. Rasulullah saw bersabda, "Jika seseorang ingin berteman dalam agama, maka lihatlah dengan siapa ia berteman." (al-Bihar, juz 72, bab 14, hadis ke-12)

Nabi saw pernah bersabda, "Kenalilah orang-orang melalui teman-teman mereka, karena setiap orang berteman dengan seseorang yang membuat dirinya merasa senang." (al-Mustadrak, juz 8, bab 10, h.327, hadis riwayat 9568)

Imam Ali as berkata, "Setiap orang cenderung pada yang serupa dengannya." (al-Ghurar, juz 4, h.532)

Imam juga berkata, "Orang-orang baik tidak bersahabat kecuali dengan orang yang sejalan dengan mereka, dan orang-orang buruk tidak suka (berteman) kecuali dengan orang yang serupa dengan mereka." (al-Ghurar, juz 6, h.376)

Dapat kita simpulkan dari keterangan hadis-hadis di atas bahwa memilih teman dan sahabat harus teliti dan mempunyai kriteria-kriteria khusus. Sekarang marilah kita lihat bagaimanakah orang-orang yang baik dijadikan sahabat menurut pandangan islam.

1. Dua ayat dibawah ini mengajak kita agar bergaul dan berteman dengan orang-orang yang siang dan malamnya selalu ingat kepada Allah dan selalu mencari keridhaan-Nya.

Firman Allah, "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya." (QS al-An'am:52)

Dan firman Allah, "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharapkan keridhaan-Nya." (QS al-Kahfi:28)

2. Rasulullah saw juga mewasiatkan agar kita berteman dengan orang-orang besar dan mulia. Sabda beliau mengatakan, "Orang yang paling bahagia adalah orang yang bergaul dengan orang-orang mulia." (al-Bihar, juz 1, bab 4, hadis ke-13)

3. Diterangkan dalam hadis (Nabi saw) yang lain, beliau mengajak kita agar berteman dengan manusia-manusia ilahi. Nabi saw ketika ditanya, "Siapakah orang yang paling utama untuk dijadikan teman?"

Rasulullah saw menjawab, "Adalah orang yang mengingatkanmu kepada Allah ketika memandangnya, dan yang ucapannya menambah pengetahuanmu serta yang amal perbuatannya mengingatkanmu akan hari akhirat." (al-Mustadrak, juz 5, bab 42, hadis 6173)

4. Imam Hasan Askari as membawakan sebuah hadis yang panjang dari jalur ayah-ayahnya (ke atas), dari Imam Sajjad as, menjelaskan tentang tolok ukur yang tepat dalam mengenal (pribadi) orang-orang. Dalam hadis itu diterangkan tanda-tandanya yang dengan itu akan dapat mengenal (memilah) antara hamba-hamba Allah yang saleh dan yang lain. Begitu pula sebaliknya, kita dapat mengetahui orang-orang yang tidak layak dijadikan teman. Dari hadis itu, terdapat suatu petunjuk bagi kita, jika memperhatikan dengan saksama keterangan-keterangannya yang memukau dan hal-hal yang jelas dan bermanfaat. Pada hakikatnya hadis itu adalah sebuah pelajaran yang agung.

Imam Ali Zain al-Abidin as berkata, "Apabila kamu melihat seorang lelaki yang baik kelakuannya dan cara petunjuknya; yang zuhud ucapannya; yang tawadhu tingkah lakunya, maka hati-hati jangan sampai kamu tertipu. Alangkah banyak orang yang ditaklukkan oleh kesenangan dunia dan perbuatan haram yang disebabkan lemahnya dan kerendahan dirinya dan jiwa pengecutnya. Dan karena itu ia jadikan agama sebagai kedok, sehingga orang-orang terkecoh oleh lahiriahnya.

"Jika ia berkuasa atas perbuatan haram, ia akan mencobanya; dan bila kamu temukan ia, ia bersih dari harta yang haram. Maka hati-hatilah jangan sampai kamu tertipu, sebab nafsu shahwat makhluk bermacam-macam. Alangkah banyak orang yang tidak makan harta haram meskipun nilainya banyak, namun ia masih mau melakukan perbuatan buruk dan akibatnya ia terjerumus dalam perbuatan haram. Jadi, jika kamu melihat perilaku ini, hati-hatilah jangan sampai tertipu, sampai kamu saksikan pandangannya berlandaskan pada apa. (bersambung...)
/Tim Akhlak

No comments: