Seperti di terangkan dalam ayat pada tulisan sebelumnya, seorang
teman dapat menjadi pemicu hancurnya iman kita.
Imam Ja'far Shadiq as berkata, "Jika kamu teruji dengan nawashib
(orang-orang yang mengingkari kebenaran dan kedudukan Ahlulbait as)
dan dengan duduk di atas batu panas sampai kamu berdiri (kiasan untuk
cepat-cepat keluar dari majlis itu), sebab Allah melaknat mereka. Dan
jika kamu melihat mereka mencela seorang imam dari para imam as, maka
berdirilah (pergilah segera) sebab kemarahan Allah turun dari atas
menimpa mereka." (al-Bihar, juz 74, bab 14, hadis ke-50)
Beliau juga berkata, "Sesiapa yang duduk di tengah para pencela
wali-wali Allah, maka telah bermaksiat kepada Allah." (kitab yang
sama)
Imam Shadiq pernah berkata, "Sesiapa beriman kepada Allah dan hari
akhirat, maka janganlah kamu duduk di majelis yang mencela seorang
dari para imam atau membahas aib seorang mukmin." (juz 74, bab 14,
hadis ke-48)
3. Kelompok yang ketiga ialah orang-orang tukang bid'ah agama dan
orang-orang yang melontarkan syak dan keraguan terhadap pokok-pokok
agama. Tentang masalah ini, Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu
melihat ahli syak dan ahli bid'ah setelahku, maka tampakkanlah
penolakanmu terhadap mereka; perbanyaklah celaanmu kepada mereka;
jatuhkanlah mereka; dan diamkanlah mereka supaya mereka tidak
merajalela dalam merusak Islam. Peringatkanlah orang-orang akan bahaya
mereka agar tidak belajar kepada mereka. Semoga Allah mencatat
kebaikan-kebaikanmu dan mengangkat derajat kamu di akhirat."
(al-Bihar, juz 74, bab 14, hadis ke-41)
Imam Ja'far Shadiq as berkata, "Janganlah kamu bersahabat dengan
ahli bid'ah dan janganlah kamu duduk bersama mereka jika di mata
orang-orang, kamu bukan dari golongan mereka. (Karena) Rasulullah saw
bersabda, "Orang itu atas agama teman dan karibnya." (hadis ke-40)
Imam Ali as berkata, "Tidak seharusnya bagi insan Muslim menjalin
persaudaraan dengan orang fajir (berkelakuan buruk), karena fajir akan
mewarnai dirinya dan senang menjadi serupanya; ia tidak akan membantu
dalam urusan dunianya dan urusan akhiratnya; tempat ia masuk dan
keluar adalah buruk bagi seorang Muslim." (al-Kafi, juz 2, h.640,
hadis ke-2)
Imam Ja'far Shadiq as berkata, "Tidak seharusnya bagi insan Muslim
menjalin persaudaraan dengan orang fajir, tidak pula dengan orang
dungu dan juga pendusta." (al-Kafi, juz 2, h.640, hadis ke-3)
Beliau juga bersabda, "Tidak patut orang mukmin duduk di majelis
maksiat kepada Allah sedang ia tidak mampu mengubahnya." (al-Bihar,
juz 74, bab 14, hadis ke-38)
Imam Ali as berkata, "Duduknya al-akhyar (orang-orang baik) di
majelis al-asyrar (orang-orang buruk), melahirkan buruk sangka orang
terhadap al-akhyar. Dan duduknya al-asyrar di majelis al-akhyar akan
membuat al-asyrar ikut baik, dan sebaliknya duduknya al-akyar di
majelis al-asyrar akan membuat al-akhyar ikut buruk. Maka jika perkara
seseorang mirip denganmu dan kamu tidak tahu ia beragama apa, maka
lihatlah kumpulan teman-temannya! Jika mereka ahli agama Allah, maka
ia atas agama Allah; dan jika mereka bukan beragamakan Allah, maka ia
bukan orang yang beragamakan Allah. Sesungguhnya Rasulullah pernah
bersabda, 'Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka
janganlah ia menjalin persaudaraan dengan orang kafir dan janganlah
bergaul dengan orang fajir! Sesiapa yang menjalin persaudaraan dengan
orang kafir dan bergaul dengan orang fajir, maka ia seorang kafir dan
fajir." (al-Bihar, juz 74, bab 14, hadis ke-31)
Imam Ali juga pernah berkata, "Jauhilah bersahabat dengan ahli
fasiq, karena keburukan itu mengiringi keburukan." (juz 33, bab 29,
hadis ke 707)
5. Kelompok kelima terdiri dari orang-orang yang kurang beragama,
kurang berakhlak, kurang berbuat baik dan kurang memahami serta kurang
berperasaan. Meskipun mereka mungkin tidak sampai fasik dan fajir,
tetapi mereka itu golongan orang-orang pendusta, muka tembok, kikir,
pandir dan ingkar janji, dan lain sebagainya.
Imam Ali as berkata, "Hendaklah seorang Muslim itu menjauhi tiga
hal, yaitu: al-majin (yang bermuka tembok), yang dungu, dan
pembohong." (al-Bihar, juz 74, bab 14, hadis ke-43)
Imam Baqir as berkata, "Ayahku Ali bin Husain as berkata, 'Wahai
anakku, lihatlah lima hal, yang jangan kamu temani, jangan diajak
bicara dan jangan kamu jadikan sebagai teman perjalanan.'
"Aku bertanya, 'Wahai ayah, beritahu aku siapakah mereka?'
"Beliau berkata, '(Pertama) Jauhilah bertemankan pendusta karena ia
sama halnya dengan fatamorgana, ia mendekatkanmu kepada yang jauh dan
menjauhkan dari yang dekat. (Kedua) Hindarilah bertemankan orang
fasik, karena ia akan menjual dirimu dengan sesuap makanan atau lebih
sedikit dari itu. (Ketiga) Jauhilah orang kikir, karena ia akan
merendahkanmu dengan hartanya yang lebih dibutuhkan dari dirimu.
(Keempat) Hindarilah bertemankan orang dungu, sebab ia ingin
memanfaatkanmu tetapi mudarat bagimu. Dan (kelima) jauhilah
bertemankan orang yang memutuskan hubungan keluarga, sebab ia dalam
kitabullah (al-Quran) aku temukan tiga buah ayat yang melaknatnya."
(al-Bihar, juz 74, bab 14, hadis ke-29)
Imam Shadiq as berkata, "Empat hal yang mengusir rejeki, yaitu
pertama, cinta yang diberikan orang yang ingkar janji." (al-Bihar, juz
2, bab 13, hadis ke-10)
Imam Baqir as juga pernah berkata, "Jangan dekati dan jangan jadikan
saudara empat kriteria ini: orang dungu, orang bakhil dan orang
pengecut serta pendusta. (tamat)
/Tim Akhlak
"Sahabat Dan Teman" bag 4
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comment:
Good job y tuk penulisnya,aku suka banget ama tulisan2nya,mendidik banget. dan juga bermanfaat banget sama aku,jadinya kita jadi tau kriteria2 dalam memilih sahabat. ditunggu lagi tulisan2 kamu berikutnya. succes ya...
Post a Comment