C!Nta & PaCaraN

Kalo ngomongin masalah yang ini, pasti gak bakalan ngebosanin dech,
dijamin !!! Jangankan yang muda-mudi yang dah tuapun bahkan anak-anak juga, semangat banget kalo ngomongin permasalahan ini. Kata orang sih,
kalo kita merasakan manisnya cinta maka cinta itu terasa manis
bagaikan madu

dan ketika tersakiti olehnya maka cinta itu terasa pahit
bagaikan empedu.bener gak seeh... apa hanya, "katanya aja..."

Dan menurut para peneliti, yang dimuat Daniel Goleman dalam bukunya
Emotional Intelegence cinta adalah salah satu emosi yang ada pada
manusia. Emosi cinta itu mengandung beberapa emosi lain seperti :
penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat,
hormat, kasmaran, dan kasih. Nah, dari emosi-emosi turunannya itu,
jelas terlihat kalo perwujudan dari cinta itu bukan hanya kasmaran aja. Persahabatan, penerimaan, kebaikan hati, dsb bisa kita ekspresikan tanpa harus pacaran.

Trus kalo dengan pacaran.. gimana? Sebenarnya diantara kita itu masih
banyak yang belum tahu ataupun belum mengerti makna pacaran. kalo gak
percaya coba tanyain aja apa sebenernya pengertian dari cinta ataupun
pengertian dari pacaran itu sendiri. Nah, kalo bener-bener gak tau
bilangin aja yah, jangan sok tau kalo misalkan emang gak tau. Dan kalo
boleh, disini kita bisa telesuri lagi pengertian dan makna sesungguh
nya dari Cinta dan pacaran ini. Yuk, kita kupas tuntas permasalahan
nya.

Kata pacaran itu berasal dari kata "pacar". Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
kata "pacar" menunjuk pada dua pengertian. pertama, pacar adalah nama
tumbuhan. Tentu aja bukan pengertian ini yang kita maksud. Trus yang
kedua, pengertian pacar adalah teman tetap lawan jenis dan mempunyai
hubungan intim, biasanya menjadi tunangan atau kekasih. Masih menurut
kamus tersebut, secara singkat pacar bisa diartikan kekasih atau
tunangan.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S Poerwadarminta,
pacaran berarti bersuka-suka, berkehendak, berkeinginan. Dalam kamus
lain disebutkan pacaran memiliki arti bercinta, berkasih sayang.

Leonard Wise, pengarang berkebangsaan Inggris, mendefenisikan kata
pacaran sebagai mencintai seseorang dengan berpura-pura. Sementara
itu, defenisi De Guzman & Diaz mengatakan bahwa pacaran adalah wujud
kedekatan dua orang yang sedang jatuh cinta, dan pacaran merupakan
hubungan istimewa antara laki-laki & perempuan yang mengikrarkan diri
untuk saling memiliki, kemudian mengadakan pertemuan khusus alias
kencan.

Laila Hanifa, seorang peneliti dari Perhimpunan Keluarga Berencana
Indonesia, melakukan penelitian tentang pacaran yang melibatkan
responden yang berjumlah 30 orang. Semua responden mendefenisikan
pacaran sebagai dua orang berbeda jenis kelamin saling menyukai atau
berkomitmen dan kedekatan dua orang yang dilandasi cinta dan masa
penjajakan mencari pasangan hidup. Dari hasil penelitiannya, ia
menarik satu kesimpulan bahwa pacaran tidak selalu berakhir dengan
pernikahan karena hanya sekedar mencari kecocokan atauketidakcocokan
saja. Lanjutnya pacaran itu lekat dengan apa yang namanya hubungan
seksual, bukan hanya sebatas membicarakan masalah, tukar pikiran,
jalan bareng, lalu pegangan tangan, membelai rambut, tetapi termasuk
ciuman bibir.

Pacaran merupakan model hubungan pria dan wanita yang dibangun atas
dasar saling memiliki, saling suka, saling mencintai, saling mengasihi
dalam rangka memperturutkan gejolak jiwa berupa cinta dan asmara yang
membara didalam hati yang dilakukan secara intim.

Kita semua dah tau kalo pacaran itu sekarang udah menjadi tradisi yang
mengakar kuat dalam masyarakat kita. Budaya ini sudah menjadi
kebiasaan baru dan hampir semua orang melakukannya. Karena sebagian
orang menganggap pacaran sebagai sesuatu yang lazim untuk
dipraktekkan. Menurut sebagian kalangan, pacaran bukan merupakan
budaya nenek moyang kita, namun adalah barang asing yang penyebarannya
berlangsung sangat cepat. Lebih cepat dari perkembangan dakwah. Ia
ibarat virus penyakit yang melanda hampir seluruh penduduk negeri ini.
Realitas ini bukan hanya ada diperkotaan tetapi juga mewabah hingga
kelorong-lorong kampung bahkan lereng-lereng pegunungan. Wajar aja
kalo kita senang dengan lawan jenis. Fitrah, betul itu ! Tapi fitrah
itu tidak harus dituruti sehingga tak terkontrol. Kita harus tetap
menjaga fitrah agar tetap murni dan tak terkotori dengan nafsu sesaat.

Dan kita juga mudah menjumpai mereka yang berpacaran tersebut, di
rumah, di pasar, di sekolah, di kampus, di kantor, di pantai, di
pegunungan, di kolong jembatan, bahkan ditempat-tempat peribadatan.
Tidak sulit menemukan kekasih tegah berduaan diteras bagian tertentu
dari masjid. Tatkala suara adzan berkumandangmereka segera angkat kaki
pergi mencari tempat yang sepi.

Pacaran dilakukan oleh semua kalangan. Mulai dari anak bau kencur yang
baru duduk dibangku SD, para remaja yang duduk dibangku SLTP dan SMU,
mahasiswa, pemuda, dosen, guru, buruh, penganggurn, narapidana,
penjahat, para artis, birokrat, wartawan, politikus, dan sebagainya.
Bahkan tidak ketinggalan pula mereka yang telah menikah. Mereka turut
ambil bagiankendatipun yang kesekian kalinya. Istilahnya adalah WIL
(wanita idaman lain) dan PIL (pria idaman lain).

Setiap orang memiliki gaya tersendiri dalam pacaran. Kemahiran dalam
berpacaran bukan karena adanya pelajaran khusus pacaran. Kehebatan itu
tidak diperoleh melalui kurikulum pendidikan nasional yang guru atau
dosen ajarkan. Tidak pula melalui pendidikan non formal nberupa privat
atau melalui kursus-kursus. Tidak juga didapatkan dengan cara bertapa
digunung-gunung dengan bentuk ritual tertentu. Tidak juga melalui
bimbingan istimewa seorang pendekar cinta. (bersambumg...)


by : Dewi Astati

No comments: