Sepertinya, pacaran itu terbentuk secara alami. Yang jadi guru untuk mendapatkan teori seadanya adalah para artis melalui berbagai tayangan seperti film layar lebar, sinetron dan yang semacamnya. Selainitu adalah orangtua, kakak, paman, tante, rekan-rekan sepergaulan, guru, dll. Setelah itu mereka langsung mencari mangsa untuk dipraktekkan.
Pacaran dipraktekkan tanpa adanya rasa malu sedikitpun. Perasaan malu hampir
hilang dari jiwa, yang ada tinggal malu-malu kucing. Apalagi yang seharusnya
menjadi contoh teladan atau panutan seperti orang tua, kakak, guru dan
panutan lainnya, justru melakukannya.
Sebagian orang yang berpacaran terutama pada kalangan remaja tidak sungkan
memberikan label pada unik pada mereka yang belum terjun ke gelanggang
pacaran. Macam-macam predikat yang dianugerahkan, misalnya remaja kuper
(kurang pergaulan), remaja ketinggalan zaman, remaja kolot, bukan anak gaul,
dan seabrek sebutan lainnya yang rada-rada melecehkan. Bahkan ada yang lebih
ekstrim dari itu, sebagai manusia tak normal, seolah-olah ukuran normal atau
tidaknya seseorang itu ditentukan oleh pacaran.
Jatuh cinta berjuta rasanya... Begitulah syair lagu yang diciptakan oleh
titek puspa. Sebuah syair lagu yang mencerminkan perasaan orang yang sedang
jatuh cinta. Dalam kenyataannya, perasaan orang yang sedang jatuh cinta
memang sulit diungkapkanmdengan kata-kata tetapi mudah dirasakan. Sebutlah
kata-kata senang, gembira, bergetar, berdebar, takut kehilangan, cemas,
rindu, cemburu, bahagia, ingin jumpa, indah, menyenangkan, ingin memiliki,
tetap saja tidak bisa mewakili nuansa orang yang jatuh cinta.
Jatuh cinta cinta selalu menggairahkan dan mengasyikkan. Setidaknya ada tiga
alasan mengapa hal itu terjadi. Pertama, karena fitrah itu sendiri. Kedua,
karena cinta kepada lawan jenis melibatkan naluri seksual. Naluri seksual
melibatkan hawa nafsu. Nafsu merupakan anugerah Allah yang punya tabiat
dasar menyuruh kepada keburukan kecuali yang dirahmati Allah. Dalam Firman
Nya di Q.S Yusuf : 53
' Innan nafsa la ammaratun bis-suu, sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak
kepada kejahatan kecuali yang diberi rahmat oleh Allah '. Ketiga, karena
adanya tipu daya setan. Profesi setan memang menggoda manusia. Ia pakar
dalam masalah goda-menggoda. Juga ahli dalam dalam menjerumuskan manusia
kelubang neraka. Dalam melancarkan aksinya, ia menggunakan berbagai strasegi
yang salahsatunya berkoalisi dengan hawa nafsu. Setanlah yang menambah
kesyahduan dan keasyikkan hubungan cinta tersebut serta dialah yang
memperindahnya.
Jatuh cinta adalah fitrah, Tentu aja semua orang pernah merasakan jatuh
cinta. Jatuh cinta bukan monopoli anak muda saja. Semua manusia dari segala
tingkatan umur memilikinya. Oang yang sudah beristri, bersuami, remaja ABG,
bujangan, janda, duda, semuanya pernah jatuh cinta bahkan boleh jadi sedang
jatuh cinta. Jangan dikira, oranfg yang punya pasangan tidak jatuh cinta
lagi. Siapa bilang kalo kakek-kakek yang berumur 75 tahun tidak akan jatuh
cinta lagi. apalagi yang masih berusia seperempat abad.
Ajaran islam merupakan ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia. Seluruh
ajarannya selaras dengan fitrah manusia. Cinta kepada lawan jenis merupakan
sesuatu yang diakui dalam islam. Jatuh cinta adalah fitrah. Firman Allah SWT
dalam Q.S Ali Imran : 14
'" Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu wanita, anak-anak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak,
dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan disisi Allah lah
tempat kembali yang baik. "
Islam tidak sekedar menyatakan pembolehan cinta kepada lawan jenis tanpa
aturan implementasi cinta tersebut. Dan cinta itu itu sendiri terbagi atas
dua, yakni : Cinta yang syar'i dan cinta yang tidak syar'i. Cinta yang
syar'i dasarnya adalah iman, buka deh Q.S 3:15, 52:21, dan 3:170. Sedangkan
cinta yang tidak syar'i dasarnya adalah syahwat. Untuk yang ini silahkan aja
dibuka Q.S 3:14, 80:34-37, dan 43:67.
Menurut Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziah, kecintaan, kasih sayang, dan
ketertarikan terhadap sesuatu yang indahdan memili kecocokan tidaklah
merupakan hal yang tercela serta tidak perlu dibuang. Namun cinta yang
melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan
membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang
sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela. Gejolak cinta yang mendorong
kita untuk melampiaskannya harus diatur. Kalau tidak, maka kita akan
terperosok kejurang kenistaan, karena diperbudak gejolak jiwa.
Ingat kisah Fatimah r.a, putri Rasullah SAW ? Setelah menikah dengan Ali Bin
Abi Thalib r.a, Fatimah pernah mengaku menyukai seorang laki-laki. Ketika
ditanya Ali, siapa laki-laki itu, Fatimah menjawab laki-laki itu sebenarnya
Ali sendiri (ehem!). Bisa ditarik kesimpulan, sebenarnya sudah ada bibit
cinta dalam hati Fatimah terhadap Ali, tapi toh beliau gak lantas kasmaran
dan mengekspresikan cintanya dengan 'suka-suka gue'. Beliau simpan rasa itu,
menatanya dengan rapi dan mengekspresikaanya saat memang sudah halal untuk
diekspresikan, yaitu saat telah menikah. Aduh jauh banget ya dengan kita
sekarang, Sebenarnya itulah kendalinya. Kalau belum siap menikah, ya jangan
main api lebih baik main air biar sejuk.
Dalam kenyataannya, pacaran memang tidak hanya dilakukan oleh mereka yang
belum paham Islam atau tidak mau paham dengan ajaran Islam. Virus pacaran
juga menulari kalangan aktivis. Virus Cinta Bersemi Sesama Aktivis atau
CBSA. Dalam sebuah organisasi tidak jarang kita juga menemukan kisah
percintaan antara ketua Rohis dengan bendahara, atau ketua Rohis dengan
Koordinator Keputrian atau sesama pengurus atau aktivis lintas organisasi.
Cinta terjalin berawal dari pertemuan yang terlalu sering dan tanpa
mengindahkan aturan pergaulan. Antara satu dengan lainnya, saling memandang
dengan bebas. Kaum laki-laki dan kaum perempuan bercampur baur dalam setiap
pertemuan yang diselenggarakan. Bersamaan dengan itu masing-masing dalam
keadaan futur, kualitas keimanan sedang berada pada titik terendah sehingga
beribadah terasa malas. Dalam kondisi ini sebagian besar pikiran dan jiwa
dipengaruhi oleh godaan setan. Setan tahu persis kelemahan si pria, demikian
pula dengan kelemahan si wanita.
Ketika benih-benih cinta mulai bersemi, berbagai cara dijadikan alasan untuk
saling berkomunikasi. Terkadang menanyakan sesuatu yang terkadang sudah
jelas instruksinya. Misalnya menanyakan waktu dan lokasi pelaksanaa rapat.
Terkadang pula mengajukan pertanyaan yang melebar hingga pada wilayah yang
tidak ada hubungan dengan organisasi. Ungkapan-ungkapan yang muncul terkesan
hanya basa-basi belaka. Dibalik itu ada maksud yang tersirat. Tegasnya, ada
dorongan perasaan yang menggebu-gebu untuk disalurkan. Ketika semua itu
tidak terkendali maka lahirlah virus merah jambu. Virus yang tadinya di
isolasi agar tidak untuk berkembang biak. Virus yang mengalihkan orientasi
aktivitas yang tabu dilakukan oleh aktivis dakwah.
Hal yang menarik, ketika semua itu terjadi, berbagai argumentasi
pembelaan diri disampaikan. Salah satunya untuk kepentingan dakwah. Dakwah
dijadikan sebagai legitimasi mengembangkan virus tersebut. Untuk membela
diri diajukanlah bukti amal kebaikan yang diproduksi dari pabrik pacaran.
Misalnya, sang kekasih terdorong melaksanakan perintah yang Maha Kuasa
karena dirinya senantiasa mendakwahinya.
Selain virus merah jambu tersebut ada virus lain yang populer dikalangan
aktivis dakwah, yakni virus KKN (Kuliah Kerja Nyata) nah lo.... Virus ini
lahir karena sering bertemu pada lokasi KKN tersebut. Akibat tiap hari
bertemu yang tidak mempedulikan rambu-rambu pergaulan yang islami maka cinta yang bersemi bermuara pada pacaran.
By : Dewi Astati

No comments:
Post a Comment